Senin, 08 September 2014

MENGGAPAI AWAN CIKURAI (sebuah catatan perjalanan – 30 Januari sd. 1 Februari 2014)




Hari ini Kamis 30 Januari 2014, hujan sedang rajin-rajinnya mengguyur ibukota. Layaknya adat istiadat yang telah turun temurun tak pernah ditinggalkan, hujan pun tak pernah menyiakan sehari pun untuk dilewatkan pada bulan ini. Dan bak pasangan kekasih yang tak pernah terpisah, hujan dan banjir nyaris selalu datang bersamaan. Di Jakarta di mana ada hujan pasti akan ada banjir, dan di mana ada banjir pasti ada masalah. Aaaah…, hujan memang menjadi masalah yang sampai sekarang belum dapat ditangani. Tapi cerita ini bukan tentang hujan.
**************
Carrier 70 liter tergeletak di belakang meja kerjaku sejak tadi pagi. Penuh sesak terisi tenda, matras, sleeping bag, serta segala macam perlengkapan yang nantinya akan kubutuhkan. Sore ini aku akan berangkat ke Garut, dan sejak pagi telah begitu banyak yang bertanya padaku apakah benar aku akan tetap mendaki. Ya, lagi-lagi akibat hujan. Pagi ini pun tak menjadi pengecualian baginya, dia terus menderu penjuru Jakarta. Tak jarang yang melarangku walau sedikit yang memberi semangat. Namun semangat dan tekadku kukuh untuk tetap mendaki menerobos hujan, karena tentu izin dan doa orang tuaku telah menyertaiku.
Jam dinding menunjukkan pukul 17.00, dan segera para pegawai pun berkemas. Tapi berbeda dengan mereka, pukul 17.00 kali ini tidak menandakan waktu pulang bagi kami melainkan waktu untuk repacking. Hall  Direktorat Lelang menjadi tempat kami berkumpul untuk membagi ulang bawaan. Sebenarnya kemarin malam kami telah membagi semua bawaan dan telah rapi kami packing ke dalam carier. Namun tadi pagi, baru tadi pagi, satu kawan kami tumbang dan terpaksa tidak dapat melakukan pendakian. Ya, lagi-lagi akibat hujan. Namun apa boleh buat mendaki memang bukan kegiatan ringan, fisik yang prima mutlak diperlukan. Sangat penting untuk tidak memaksakan kehendak ketika akan mendaki, karena ceroboh sedikit saja bisa nyawa taruhannya. Dan akibatnya carrier kami yang telah sesak terisi pun terpaksa harus menampung beban tambahan.
Selepas shalat maghrib yang kami jama’ qasar dengan shalat isya’, pukul 18.45 kami berangkat menuju Terminal Senen. Cukup lama kami menunggu di Senen hingga lebih dari tiga puluh menit baru bus yang kami cari datang, bus nomor 17 jurusan Kota-Kampung Rambutan. Hampir dua jam perjalan kami menuju Kampung Rambutan. Dan dari Kampung Rambutan kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Terminal Guntur, Garut menggunakan bus antar kota jurusan Garut via Tol Cipularang. Di terminal ini lah nantinya semua akan bermula.
**************
Suara deru mesin mendadak berhenti. Tak lagi kurasakan tubuhku terguncang-guncang akibat laju bus berkelok-kelok di jalanan. Sesaat kurasakan suasana hening pagi, namun langsung berubah hiruk pikuk saat semua penumpang berebut turun. Kulirik jam tangan, pukul 04.25. Hampir tujuh jam bus kami menyusuri jalan dalam keremangan malam, namun hanya seperempat dari perjalanan itu yang kuingat. Sisanya? Tentu kugunakan tidur demi mempersiapkan fisik untuk pendakian esok.
Tersadar telah sampai di Terminal Guntur, Garut mendadak semangatku terbakar. Tubuhku bergetar. Desir dingin mengalir di kulitku pertanda adrenalinku telah benar terpacu. Pikiranku melayang terbang jauh membubung tinggi penuh akan imajinasi. Sudah terbayang olehku sinar mentari pertama menyembul dari balik bumi, awan-awan berarak-arak bak  gelombang laut berlari menari,  semilir udara pagi gunung yang begitu menyegarkan berembus masuk melalui hidung memenuhi tubuhku dengan kedamaian yang tak akan kurasakan di tempat manapun kecuali di gunung. Luar biasa memang bagaimana gunung bisa menjadi candu bagiku. Sayup merdu suara adzan subuh akhirnya menyadarkanku dari lamunan dan kami memutuskan untuk menunaikan shalat subuh di masjid  di seberang terminal.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Terminal Guntur, Garut merupakan titik tolak pertama pendakian tiga gunung, Gunung Papandayan, Gunung Guntur, dan gunung yang akan kami daki, Gunung Cikurai. Gunung Cikurai berbentuk nyaris seperti kerucut sempurna dengan ketinggian 2.818 MDPL. Gunung ini terdapat di perbatasan tiga kecamatan, Bayangbong, Cikajang, dan Dayeuh Manggung. Terdapat tiga jalur pendakian untuk menuju puncak Cikurai, jalur Cikajang, Bayangbong, dan Cilawu. Di antara ketiga jalur pendakian ini, jalur pendakian Cilawu merupakan yang paling populer digunakan karena walau memiliki waktu tempuh yang paling lama tingkat kesulitan medannya tergolong paling ringan dibandingkan kedua jalur lainnya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Persiapan pendakian kami kali ini tergolong sangat mepet, hanya satu minggu. Dengan waktu yang serba mepet ini kami harus memanfaatkan waktu se-efisien dan se-efektif mungkin. Selain harus mempersiapkan semua perlengkapan, peralatan, maupun logistik, semua jalur pendakian dan segala jenis medan yang akan kami lalui wajib kami pelajari. Dengan berbagai pertimbangan, salah satunya tingkat kesulitan medan, akhirnya kami setuju untuk menggunakan jalur Cilawu.
Selesai shalat subuh, tiga lembar roti dan sebatang coklat menjadi sarapan kami. Dan sembari mengunyah roti kami melakukan pengecekan terakhir. Setelah yakin tidak satu pun barang yang tertinggal, carrier langsung kami sandang di punggung dan kami langsung mencari angkot 06 jurusan Cilawu. Dari pintu terminal kami berjalan terus hingga kira-kira setelah 300 meter baru lah kami berhenti menunggu angkot. Dari angkot ini kami akan berhenti di pos patrol, pangkalan ojek. Kebanyakan supir angkot sudah paham akan berhenti dimana apabila melihat penumpang mebawa carrier.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Satu saranku buat teman-teman sekalian yang berniat mendaki Cikurai, jangan tunggu angkot di depan pintu terminal Garut karena teman-teman bisa menjadi sasaran empuk bagi calo-calo terminal. Memang hal yang sudah umum apabila kita dapati calo di Terminal Guntur, karena nampaknya calo sudah menjadi pekerjaan tetap bagi sebagian orang di terminal ini. Berdasarkan obrolanku dengan supir angkot kudapati informasi bahwa untuk setiap kepala para calo ini menerapkan tarif palak lima ribu.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Sekitar 45 menit angkot kami melaju di jalanan berkelok yang terus menanjak menuju pangkalan ojek. Dari pangkalan ojek ini kita akan dapat melihat kokohnya gunung Cikurai hingga ke puncaknya, namun tidak pagi ini karena kabut begitu erat menyelimuti puncaknya. Pukul 06.15 kami sampai di sana, dan dengan sigap tukang ojek langsung menyambut kami di depan pintu angkot begitu kami turun. Mereka pun tak segan-segan langsung membawa carrier kami apabila aku tak langsung berucap, “Kami mau jalan kaki aja pak.” Dari pangkalan ojek ini sebenarnya kebanyakan pendaki Cikurai akan menggunakan jasa angkutan ojek sampai ke Pos Pemancar, pos pendakian awal Cikurai, dengan tarif 35.000. Atau bisa juga langsung carter  angkot dari terminal langsung ke Pemancar dengan tarif 35.000-45.000. Namun tidak begitu dengan kami, kami memutuskan untuk berjalan kaki.
Mantab langkah kaki kami ayunkan melewati pintu gerbang desa Cilawu dan jalanan aspal keras yang menanjak langsung menyambut kami. Sepuluh menit kami berjalan dengan latar perkampungan dengan penduduk yang begitu ramah senyum, kami berhenti sejenak karena teringat nasi padang yang kami beli kemarin malam namun belum sempat tersentuh. Awalnya kami berencana akan makan di atas bus namun ternyata bus yang kami naiki begitu penuh hingga banyak yang terpaksa harus berdiri. Dan akibatnya, apalagi untuk makan, bergerak sedikit saja kami kesusahan. Dan jadi lah nasi padang itu tak tersentuh hingga kini. Kubuka bungkusnya dan kuciumi baunya, ternyata belum basi. Nampaknya AC bus semalam yang mencegahnya menjadi basi. Nasinya dingin menyentuh lidahku dan sayurnya pun serasa membeku, namun kami sadari itu bisa jadi sumber tenaga hari ini. Dan dengan lahap kami menghabiskannya.
Seusai makan kami langsung beranjak melanjutkan perjalanan. Sekitar 20 menit perjalanan pertama kami lewatkan hanya dengan pemandangan rumah penduduk di kiri maupun kanan. Lalu kami jumpai banyak kolam-kolam pembibitan ikan, kebanyakan ikan nila kurasa, dan sawah-sawah dengan petani-petaninya yang dengan tekunnya bertani dari pagi hari. Hingga akhirnya kawasan penduduk pun berakhir dengan ditandai jalanan bercabang dua, lurus untuk terus memasuki kawasan penduduk dan ke kanan menyusuri jalanan berbatu untuk menuju Cikurai. Jalanan ini hanya selebar satu mobil, sehingga mobil yang menuju atas dan kembali ke bawah secara bersamaan sering harus saling menunggu.
Dari persimpangan itu pemandangan akan berubah menjadi perkebunan teh di kiri dan kanan jalan. Dan sejauh mata memandang ke depan terus terhampar pemandangan perkebunan teh bak lembaran permadani hijau di atas gundukan-gundukan perbukitan, begitu menyejukkan mata. Udara sejuk pun terus terembus menyegarkan raga. Begitu damai langkah kaki kami, tak terasa jalanan menanjak berbatu di bawah sol sandal kami.



Kami terus melangkah hingga kira-kira tepat di tengah perjalanan kami dapati sebuah pondok kayu berdinding bambu di tengah pelataran tanah yang lumayan luas, ini lah pos registrasi pertama. Di sini kita diwajibkan menuliskan nama anggota serta nomor telepon perwakilan kelompok yang akan melakukan pendakian dan tentunya melakukan pembayaran registrasi yang tergolong murah hanya 3.000 per kepala. Di pos ini kudapatkan informasi bahwa hingga pagi ini telah ada kurang lebih 300 pendaki yang akan melakukan pendakian, jumlah yang tentunya sangat banyak namun wajar mengingat ini adalah long weekend dan kebanyakan gunung lain ditutup akibat cuaca ekstrim yang dapat membahayakan pendaki. Dari pos ini pula kudapatkan informasi bahwa terdapat rute cepat menuju Pos Pemancar yang bisa digunakan oleh pendaki yang berjalan kaki.
Dari Pos Registrasi ini menuju Pos Pemancar masih sekitar satu jam lagi. Perkebunan teh terus terhampar di depanku, dan ketika kudongakkan pandanganku ke atas, langit nampak begitu cerah biru dengan selingan awan putih ceria. Bak dua permadani raksasa, hijau dan biru yang bertemu di ujung yang belum terlihat, alam seakan begitu mendukung, sehingga semakin menjadi semangatku. Langkah kaki pun kami percepat menyusuri jalan pintas yang telah ditunjukkan kepada kami  yang kali ini berupa tanah liat tak berbatu. Kami terus berjalan dan hanya sesekali berhenti untuk minum dan mengambil foto beberapa petani teh. Jalanan tanah liat tak berbatu berakhir dan kami bertemu dengan jalan aspal keras yang rusak di sana sini. Jalanan aspal ini lebih menanjak daripada trek tanah liat sebelumnya, dan semakin menanjak lagi. Kabut pekat mulai turun namun Pos Pemancar belum terlihat juga.
Kutajamkan pandanganku ke depan namun jarak pandang begitu terbatas akibat kabut. Jalanan aspal ini mulai terasa berat bagi kakiku. Namun sekonyong-konyong angin berembus mengusir kabut dari pandangan dan terlihat di depanku hanya berjarak sekitar seratus meter berdiri tiang pemancar sinyal. Ya ini lah asal muasal nama Pos Pemancar karena memang di situ terdapat stasiun pemancar TV yang kini tak lagi digunakan. Begitu tahu Pemancar sudah begitu dekat, berat di kakiku seakan langsung hilang dan langkahku menjadi ringan kembali. Total kami memerlukan waktu sekitar dua setengah jam dari Pangkalan Ojek hingga Pemancar.


-------------------------------------------------------------------------------------------------
Perlu diketahui bahwa dalam pendakian Cikurai akan sulit ditemui sumber air sehingga kebutuhan air harus sangat diperhatikan apalagi di musim kemarau. Salah satu sumber air yang dapat digunakan berada di tengah perjalanan Pos 2 menuju Pos 3, yang berasal dari bocoran pipa PDAM. Namun untuk lebih amannya lebih baik memenuhi kebutuhan air di Pos Pemancar, karena di sini air berlimpah.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Jumat 31 Januari 2014 pukul 09.15, setelah melakukan registrasi ulang di pos relawan Pemancar,  dimulailah pendakian kami. Pendakian langsung diawali dengan medan tanah liat yang menanjak dan menjadi shock therapy bagi kami. Mewakili puncak Cikurai tanjakan itu seakan berkata, “Aku tak akan mudah kau taklukkan.” Tanjakan pertama ini cukup menghabiskan tenaga kami yang setelah melewati tanjakan pertama ini langsung berhenti untuk mengeset ulang carrier agar lebih nyaman lagi di badan.
Dari Pemancar perjalanan diawali dengan latar perkebunan teh sebentar yang dilanjutkan dengan ladang bawang, sawi, dan lobak nampaknya tak begitu jelas bagiku. Perladangan itu serta merta berakhir dengan terlewatinya tanjakan. Hutan hijau dengan pohon-pohonnya yang lebat menyambut kami ramah dengan nafasnya yang segar. Gemerisik daun-daun hijau saling teradu diselingi sesekali oleh kicau merdu burung, ranting-ranting mungilnya menggapai-gapai, kokoh batangnya tumbuh erat hanya terbelah oleh jalanan tanah liat berbatu yang merupakan jalur pendakian kami. Begitu memasuki hutan jalur pendakian menuju Pos 1 tidak lah securam tanjakan tadi, namun tak landai juga.
Dari Pemancar menuju Pos 1 kami saling susul menyusul dengan beberapa pendaki lainnya seakan beradu cepat. Namun kuputuskan pendakian ini bukan lah ajang lomba cepat, mari kita nikmati perjalanannya. Setelah sekitar sejam sampai juga kami di Pos 1, di sini kami beristirahat sebentar untuk melepaskan dahaga dan mengisi tenaga dengan coklat cair serta batangan gula jawa.
Seketika badan kami telah segar kembali langkah kami ayunkan mantab menuju Pos 2. Pemandangan yang kita lalui masih tetap sama, jalanan tanah liat berbatu berdindingkan pepohonan lebat namun masih tertembus sinar matahari yang sesekali terhalang kabut. Medan pendakian juga masih sama tidak begitu menanjak tapi tak landai juga. 45 menit kami tapaki jalanan itu dengan mantab hingga sampai ke Pos 2 yang berupa bukaan tanah liat tak terlalu lebar, hanya cukup untuk mendirikan dua buah tenda.
Kembali kami lanjutkan pendakian menuju Pos 3, jalanan masih sama seperti dua pos sebelumnya namun cukup menyita waktu kami hingga lebih dari satu jam. Sesampainya di Pos 3 kami membuka perbekalan, kuputuskan untuk bersantap siang di pos ini karena merupakan titik tengah dari pendakian. Tiga lembar roti coklat, sebotol susu, sebatang coklat dan gula jawa cukup mengisi tenaga kami.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Secara keseluruhan terdapat tujuh pos dan satu pos bayangan untuk menuju ke puncak Cikurai dari Cilawu. Kebanyakan pendaki akan membuka tenda mulai dari Pos 6 hingga puncak. Terdapat pula bukaan tanah luas yang dapat menampung sekitar dua puluh tenda setelah kita melewati puncak. Menurut rencana kami akan mendirikan tenda setelah melewati Pos 7 sebelum pos bayangan karena kami rasa itu kawasan yang paling tepat, tidak jauh dari puncak namun tak berangin kencang karena pepohonan masih tumbuh lebat. Tidak disarankan untuk mendirikan tenda di pos bayangan karena berdasarkan pengalaman pendaki-pendaki lain aura mistis selalu menyelimuti kawasan itu, tak jarang suara-suara tak bertuan serta bayangan makhluk tak kasat mata mengganggu.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Kabut mulai erat menyelimuti jalur pendakian kami, jarak pandang menjadi begitu terbatas. Trek berubah menjadi jalanan tanah liat tak berbatu disertai akar-akar pepohonan yang menembus tanah seakan ingin menjebak kita dengan menawarkan pijakan licin bagi kaki. Namun tak semua akar-akar itu menyimpan tujuan buruk, di kanan kiri kita jumpai akar-akar budiman yang menawarkan bantuan berupa pegangan bagi tangan yang nantinya akan terbukti sangat berguna. Batang-batang pohon di kiri kanan seakan tak mau kalah menawarkan bantuan dengan menjadi tembok yang melindungi kami dari jurang. Menuju Pos 4 perjalanan terasa mulai berat karena selain medan yang licin kemiringan medan di sana sini juga mulai menjadi ekstrim. Hampir satu jam kami melanjutkan pendakian hingga sampai di Pos 4 pukul 13.50.
Rintik kecil hujan mulai turun di tengah kabut pekat, namun pepohonan lebat masih dapat menghalanginya. Angin  pun turut membantu dengan mengembuskan jauh rintik hujan. Jalanan dengan kemiringan ekstrim makin sering mewarnai jalan kami yang semakin memberatkan kaki. Kupejamkan mata sejenak, kubiarkan nafas segar gunung menerpa tubuhku masuk ke dalam paru-paru. Masih terlihat dalam benakku awan-awan menggapaiku di puncak nanti, seketika kubuka kembali mataku dengan semangat yang semakin menjadi-jadi, hilang pergi semua letih di kaki, tak ingin dikalahkan oleh beratnya medan ini.
Lima belas menit waktu bagi kami menaklukkan jalanan Pos 4 menuju Pos 5, relatif singkat namun berat. Singkat kami berhenti di pos ini hanya sekedar untuk membasuh keringnya kerongkongan. Seakan tak mau dikalahkan jalanan semakin berat dengan kemiringan konstan menantang. Semakin berat langkah kami apalagi rintik hujan sudah mulai menembus lebatnya dedaunan yang selama ini memayungi. Tapi kami belum memutuskan untuk mengenakan jas hujan karena diyakini ini hanyalah hujan yang bergerak terembus angin dari puncak, sayong. Akar-akar yang menyembul menembus bumi terbukti menjadi bantuan bagi kami mulai dari sini. Berkali-kali kami harus menggapai erat menjadikannya pegangan agar dapat melewati setiap tanjakan.
Pukul 15.20 kami tiba di Pos 6, kudapati banyak tenda-tenda didirikan di sini. Rintik hujan mungil berubah menjadi gerimis deras, menghujam keras seakan tak lagi memberikan bonus. Jas hujan langsung kami kenakan karena ini bukan lah sayong. Satu jam kami terus dihujam hujan, dingin beku menembus jas hujan tipis, memberatkan setiap ayunan langkah. Jalanan pun tak mau kalah, ia semakin menjadi, memberikan kemiringan yang tak lagi main-main. Aliran air hujan berubah menjadi sungai dingin di bawah kaki, melengkapkan cobaan. Fisik kami mulai drop, nafas mulai tersengal-sengal, kaki makin sering bergetar, hingga tinggal semangat yang menjadi tenaga. Terus kami tantang alam hingga tiba di Pos 7 kami benar telah capai namun tak kulihat ada bukaan tanah yang bisa kujadikan tempat bermalam.
Lama kami beristirahat di sini, mengumpulkan sisa-sisa tenaga. Hingga pukul 16.00 baru tubuh kami mau berkompromi. Sekitar lima belas menit kemudian Tuhan memberikan kemudahan, menyediakan bukaan tanah liat yang dapat kami gunakan untuk mendirikan tenda. Namun tak serta merta menjadikan kami setuju untuk membuka tenda di situ karena air menjadikan tempat itu jalurnya.  Namun kami akhirnya sepakat untuk tetap mendirikan tenda di situ mengingat kondisi fisik yang benar sudah drop.
Tenda beserta tiang-tiang besinya kami keluarkan dari tas, flysheet serta tali rafia juga tak lupa. Jalur air tadi coba kami atasi dengan membuat parit kecil sehingga air tak langsung mengalir ke tenda kami nanti. Selesai membuat parit kecil dengan kayu, kami langsung meraih tenda dan tanpa jeda langsung kami dirikan. Meski tangan serta badan kami bergetar hebat tenda harus berdiri, flysheet pun wajib terpasang mengingat hujan deras dapat menembus. Tenda serta flysheet kami ikatkan ke dahan-dahan pohon agar tak terbang diterpa angin. Hingga akhirnya pukul 17.00 berdiri juga tenda kami, gubuk kecil yang akan menjadi istana kami malam ini.
Hujan sore itu, ya lagi-lagi hujan, memupuskan harapanku untuk mengantarkan matahari ke dalam persembunyian malamnya. Namun kuyakin esok kan cerah, kan kusambut sinar pertama matahari dan kan kugapai awan-awannya.
Malamnya setelah makan malam mi rebus dengan tambahan sosis, disertai sereal hangat, serta sebatang coklat kami tertidur pulas walau dingin terus menembus tenda serta sleeping bag kami.
**************
Ku ayunkan langkahku sambil berlari, tak kuhiraukan medan yang begitu miring, ku tetap berlari. Pandanganku tertuju ke atas ke awan-awan putih bersih yang mulai berkumpul. Matahari belum muncul namun sebagian kecil sinarnya telah mampu menembus melukiskan semburat jingga di langit pagi itu.
Sabtu 1 Februari 2014 pukul 05.30, kami sampai di puncak Cikurai.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
semburat jingga matahari menyambut, awan menggapai-gapai lembut
berderak berarak bergelombang berpendar perak
bemandikan cahaya pertama surya, bak pelita hatiku gempita
hangat tubuhku, damai jiwaku, pandangku luas menangkap lukismu,
tanganku mengayun menggapai awanmu, Cikurai
selimut dingin semalaman sirna sekejap, tersisa sinar pancaran mata terpendar takjub
tubuh tak lagi letih, kaki tak lagi kaku beku
cobaan yang dari kemarin mendera, seakan lama terlupa
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Di puncak Cikurai akan kita dapati sebuah bangunan yang dapat menampung sebuah tenda, spot ini menjadi tempat yang paling diincar oleh para pendaki karena selain menawarkan pemandangan yang begitu indah angin kencang yang sering berembus kencang di puncak tak lagi menjadi ancaman karena terhalang oleh dinding bangunan.
Cikurai merupakan gunung yang sudah tidak aktif sehingga tak akan kita temui kawah di puncaknya. Sekilas puncaknya tertutup hamparan rumput hijau dengan pepohonan hijau lebat di lereng-lerengnya. Apabila kita menyusuri bagian barat puncak Cikurai akan kita dapati bunga edelweiss yang tumbuh jarang di lereng namun tetap mempesona. Selain itu dari puncak kita juga bisa menyaksikan pemandangan gunung-gunung lain di sekitar Cikurai seperti Papandayan. Suasana damai yang kami dapati di puncak itu lah yang menjadikan gunung begitu memikat.
Merah putih tak lupa kami kibarkan di puncaknya, dan seakan mendukung angin pun berembus kencang menerpa sang merah putih. Sunrise yang menyembul di balik perbukitan, awan-awan yang bergelombang menari, gunung gemunung di batas horizon, semua tak lupa kami abadikan ke dalam foto.
Pukul 08.00 setelah berpuas-puas di puncak kami memutuskan untuk kembali ke tenda, sarapan. Menu pagi itu kembali sereal hangat, mie rebus disertai sosis, dan secuil nasi yang ditawarkan oleh tetangga tenda sebelah. Sarapan pagi itu begitu nikmat karena semua perjuangan kami kemarin telah berbuah hasil.
Pukul 10.30 setelah berkemas membereskan tenda dan semua perlengkapan, tak lupa sampah kami pack rapi, kami pun turun dari Cikurai. Perjalanan turun ini memerlukan waktu hanya setengah dari perjalanan pendakian kemarin. Namun tak lantas menjadikannya mudah, hujan kemarin sore menjadikan trek begitu licin hingga kita harus ekstra hati-hati. Untuk menyingkat waktu dari pos 4 hingga pos 1 kami berlari turun. Tak banyak yang terjadi selama perjalanan turun kami, hanya beberapa kali terpeleset. Dan pukul 14.00 kami sudah sampai di Pos Pemancar, di sini kami melapor kembali untuk memastikan bahwa semua anggota telah kembali dengan selamat. Cukup lama kami beristirahat di Pemancar hingga hampir jam 15.00 baru lah kami turun kembali menuju pangkalan ojek, dan kembali kami berjalan kaki.

Tanpa menunggu jeda dari pangkalan ojek kami langsung menuju Terminal Guntur, lalu melakukan pembersihan di masjid seberang terminal. Karena perut mulai terasa lapar kami memutuskan untuk mencari makan malam di sekitar terminal sebelum pulang. Pukul 20.00 bus kami sudah melaju menyusuri jalanan malam mengantarkan kami kembali ke kehidupan nyata Jakarta.



Kru: Amin Rasyidi, Githa Adi, Charisma Nur
Teks: Amin Rasyidi
Foto: Githa Adi

3 komentar:

  1. gatheli kowe su wis duwe blog dhewe, berkembang kowe su

    BalasHapus
  2. ayo su munggah gunung, tambora ws cedak mbek kantorku :D

    BalasHapus